Belitung bukan hanya kaya akan pantai dan granitnya yang menawan, tetapi juga menyimpan tradisi kuliner unik yang disebut makan bedulang. Tradisi ini telah diwariskan turun-temurun dan hingga kini masih menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat setempat.
Secara bahasa bedulang berasal dari kata dulang, yaitu nampan bulat besar yang digunakan untuk menyajikan makanan (artikel BelitungIsland.com) dan di tutup menggunakan tudung saji merah yang disebut mentudong (artikel PosBelitung.co). Dalam tradisinya, satu dulang berisi nasi, tumbuh-tumbuhan yang ada di Belitung seperti daun singkong, jantung pisang, daun kenikir, serta tumbuhan lainnya, selain itu pula terdapat lauk berkuah seperti gangan yang biasanya diletakkan di tengah dan tidak lupa lauk yang pasti tersaji adalah ikan dan juga sambal khas Belitung (artikel PosBelitung.co). Tradisi makan bedulang ini juga biasanya disajikan untuk empat orang yang duduk melingkar mengelilingi dulang, lalu menyantap hidangan bersama.
Yang menarik dari tradisi ini adalah tata cara atau proses untuk menikmati makan bedulangnya. Prosesnya meliputi pembukaan tudung saji oleh yang tertua, pembagian piring oleh yang termuda, dan pengambilan lauk secara berurutan sesuai usia, dengan makanan yang diambil secukupnya dan tidak boleh dikotori agar bisa dibagikan kembali (artikel desawisatabelitung.com).
Makan bedulang bukan sekadar cara menyantap makanan, tetapi simbol kebersamaan, persaudaraan, dan kesetaraan. Semua duduk sama rendah, berbagi makanan dari satu wadah yang sama (artikel diskominfo). Nilai ini mengajarkan kerukunan dan kekompakan dalam kehidupan sehari-hari.
![]() |
Kini, makan bedulang bukan hanya sekadar tradisi makan yang dilakukan oleh masyarakat Belitung tetapi juga menjadi daya tarik wisata kuliner yang sering pula disajikan di acara pernikahan, festival budaya dan penyambutan tamu untuk mengenalkan dan melestarikan kearifan lokal Belitung (ringkasan artikel belitungisland.com). Wisatawan pun bisa ikut merasakan pengalaman unik ini yang membuat mereka menyatu dengan masyarakat, berbagi cerita, dan menikmati cita rasa otentik Belitung dalam suasana penuh kehangatan.(APRIL)